Aliran-aliran cerita pendek merupakan filosofi dasar yang
mencirikan pengucapan sastra seorang sastrawan. Hingga kini telah dikenal
puluhan aliran jenis jenis cerita pendek. Berikut adalah beberapa di antaranya
:
1.REALISME
Adalah aliran dalam kesusastraan yang melukiskan suatu keadaan secara sesungguhnya.
HB Jasssin menjelaskan dalam realisme digambarkan keadaan seperti yang
sebenarnya yang terlihat oleh mata. Pengarang melukiskan dengan teliti tanpa
prasangka, tanpa tercampur tafsiran, tidak memaksakan kehendaknya sendiri
terhadap pelaku dan pembacanya. Pengarang sendiri berada di luar tanpa ikut
campur dalam cerita. Ia sebagai penonton yang obyektif. Tidak melukiskan lebih
bagus atau lebih jelek dari kenyataan. Realisme muncul pada abad ke 18 tapi
baru berkembang pada abad 19 dan awal abad 20. Kaum realis menentang romantisme
yang mereka anggap cengeng dan berlebihan. Kaum realis lebih memilih
tokoh-tokoh sederhana dan umum. Hal-hal bersifat ideal ditolak. Itulah sebabnya
karya realisme banyak berkisar pada golongan masyarakat bawah, seperti kaum
tani, buruh, gelandangan, pelacur, gangster,dsb.
2. Impresionisme
Impresi berarti kesan. Jadi impresionisme adalah pelahiran kembali kesan-kesan
sang pengarang terhadap sesuatu yang dilihatnya. Sebagaimana kesan, ia biasanya
sepintas lalu. Menurut Dr. JS Badudu, pengarang tak akan melukiskannya sampai
sekecil-kecilnya seperti realisme dan naturalisme. Akan tetapi spontanitas dari
penglihatan pertama yang dilukiskan, karena kesan itulah yang tetap melekat.
3. Naturalisme
Sebenarnya merupakan cabang realisme. JIka realisme menyajikan hal-hal yang
nyata dalam kehidupan sehari-hari, naturalisme cenderung melukiskan segala
kenyataan yang ada tanpa memilih, atau menyeleksinya. Apa yang tampak dan
dirasakan itu juga yang dinyatakan. Oleh sebab itu naturalisme cenderung
melukiskan segala yang buruk, jorok bahkan pornografis. Juga melukiskan kritik
sosial secara tajam. Naturalisme amat mementingkan alam semesta, seperti
pengertian awalnya bahwa natura adalah alam. Tokoh-tokoh naturalisme
mengungkapkan aspek-aspek alam semesta yang bersifat fatalis dan mekanis. Ia
juga mementingkan gerak dan aktivitas manusia yang mewujudkan kebendaan serta
kehidupan moral yang rendah.
4.Neonaturalisme
Berarti naturalisme baru, yaitu bentuk lanjutan naturalisme. Aliran ini merangkum
realisme dan naturalisme. Yaitu disamping melukiskan hal-hal yang buruk juga
kenyataan yang baik. Itu sebabnya ia dikatakan melukiskan kenyataan yang
obyektif. Fiksi awal sastra Indonesia tampil dalam bentuk realisme yang kuat,
melukiskan aspek kehidupan secara nyata dan langsung. Dalam perkembangannya
realisme kurang memuaskan sehingga dalam
banyak hal naturalisme lebih mampu menyatakan ekspresi jiwa pengarang. Akan
tetapi naturalisme pun kurang memuaskan sehingga membutuhkan satu bentuk
ekspresi yang lebih ekstrem yaitu neonaturalisme
5. Determinisme
Merupakan cabang dari naturalisme, yaitu aliran kesusasteraan yang menekankan
pada takdir. Takdir ini ditentukan oleh unsur biologis dan lingkungan. Berasal
dari kata to determine yang berarti menentukan atau paksaan nasib. Dr. Js.
Badudu mengatakan bukan nasib yang ditentukan oleh Tuhan melainkan nasib yang
ditentukan oleh keadaan masyarakat sekitar, seperti kemiskinan,penyakit
keturunan, dan kesulitan akibat perang. Inti pokoknya adalah penderitaan seseorang.
Jahatkah, melaratkah, penyakitankah, bukan karena takdir Tuhan namun karena
lingkungan yang buruk. Penganutnya berangkat dari paham materialisme dan
karenanya tidak percaya bahwa Tuhanlah yang menakdirkan demikian. Contoh :
Tokoh Yah dalam Belenggu, Armijn Pane.
Neraka Dunia, Katak hendak jadi Lembu - Nur St Iskandar. Pada Sebuah kapal - NH
Dini, Atheis Achdiat K Mihardja.
6. Ekspresionisme
Dijelaskan oleh Dr. HB Jassin bahwa sampainya orang pada aliran ekspresionisme
karena manusia dengan jiwanya yang paling dalam cuma bisa dilukiskan oleh
seniman yang mengenali manusia itu sampai pada pikiran dan perasaannya yang
paling dalam, kesedihan dan kesengsaraannya,ketinggian rasa susila, dan
kerendahan hawa nafsunya. Untuk melahirkan manusia yang sebenarnya , si
pengarang harus seolah-olah masuk ke dalam tokoh-tokohnya, dan ia tak bisa
meniadakan dirinya sama sekali, tapi turut aktif dalam jiwa tokoh itu. Pada
mulanya ia sebagai penonton pasif, yaitu melihatnya secara obyektif tapi
kemudian menjadi aktif sebagai pemain yang subyektif yang turut menyatakan
dirinya. Maka sampailah ia pada ekspresi yaitu pengucapan jiwanya yang
melahirkan ekspresionisme.
7. Romantisme
Mengutamakan perasaan. Ada anggapan romantisme adalah penyakit kaum muda yang
belum banyak mengecap pengalaman dunia. Mereka mengukur segalanya dengan
intuisi dan perasaan tanpa menggunakan otak. Oleh sebab itu romantisme bisa
dikatakan aliran yang mementingkan penggunaan bahasa
yang indah, mengawang ke alam mimpi. karya romantisme ada yang cengeng, yang
meluikiskan kecengengan jiwa remaja yang berlagu tentang kecerahan bulan,
menyanyi di lindungan pohon dengan beribu bunga di taman indah permai. Ada pula
karya romatisme yang dewasa karena ditempa oleh pengalaman
dan pengetahuan yang bila dituangkan dalam karya sastra bisa sangat
mengharukan. Karya Shakespeare, Romeo dan Yuliet, misalnya adalah karya yang
agung. Demikian pula Les Mirables, karya Victor Hugo. Juga Daniel Defoe
(1660-1731)
8. Idealisme
Drs. sabarudin ahmad dalam pengantar sastra Indonesia (Medan, Saiful 1975)
mengatakan bahwa aliran idealisme adalah aliran romantik yang mendasarkan
cita-citanya pada cita-cita si penulis atau kepada ide pengarang semata.
Pengarang idealis mememandang jauh ke depan ke masa datang dengan segala
kemungkinan yang sangat diharapkan akan terjadi.
Jadi tak ubahnya ramalan indah dari seorang penulis. Lukisan yang idealisme
sudah tentu umumnya indah dan menawan. Contoh Tokoh Tuli dalam layar
Terkembang. Merasa mampu mewujudkan cita-citanya mengangkat harkat martabat
kaum wanita sebagai mana dicita-citakan RA Kartini . Umumnya fiksi Indonesia
seblum perang banyak yang menunjukkan idealisme kuat, seperti Siti Nurbaya,
Pertemuan Jodoh, Katak hendak jadi lembu.
9. Surealisme
Muncul di Prancis antara PD I dan PD II. Tokoh surealis berusaha menggambarkan
suatu dunia mimpi, tapi penafsirannya mereka serahkan pada pembaca atau
audiens. Js Badudu mengatakan surealisme .realistasnya bercampur dengan
angan-angan. malah angan-angan amat memengaruhi bentuk lukisan. Pelukisan dalam
surealisme melompat-lompat .Karena itu amat sulit mengikuti karya surelaisme.
Pembaca harus menyatukan dalam pikirannya lukisan yang seakan-akan bertaburan
apalagi karena pengarang seakan mengabaikan tata bahasa, pikiran tampak
meloncat-loncat,logika seakan hilang , alam benda dan alam pikiran bercampur
jadi satu.