Senin, 24 Agustus 2015

PENGERTIAN CERPEN SECARA UMUM


Cerita pendek atau sering disingkat sebagai cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih panjang, seperti novella (dalam pengertian modern) dan novel. Karena singkatnya, cerita-cerita pendek yang sukses mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokohplottemabahasa dan insight secara lebih luas dibandingkan dengan fiksi yang lebih panjang. Ceritanya bisa dalam berbagai jenis.
Cerita pendek berasal dari anekdot, sebuah situasi yang digambarkan singkat yang dengan cepat tiba pada tujuannya, dengan paralel pada tradisi penceritaan lisan. Dengan munculnya novel yang realistis, cerita pendek berkembang sebagai sebuah miniatur.
Cerita pendek cenderung kurang kompleks dibandingkan dengan novel. Cerita pendek biasanya memusatkan perhatian pada satu kejadian, mempunyai satu plot, setting yang tunggal, jumlah tokoh yang terbatas, mencakup jangka waktu yang singkat.
Dalam bentuk-bentuk fiksi yang lebih panjang, ceritanya cenderung memuat unsur-unsur inti tertentu dari struktur dramatis: eksposisi (pengantar setting, situasi dan tokoh utamanya); komplikasi (peristiwa di dalam cerita yang memperkenalkan konflik); aksi yang meningkat, krisis (saat yang menentukan bagi si tokoh utama dan komitmen mereka terhadap suatu langkah); klimaks (titik minat tertinggi dalam pengertian konflik dan titik cerita yang mengandung aksi terbanyak atau terpenting); penyelesaian (bagian cerita di mana konflik dipecahkan); dan moralnya.
Karena pendek, cerita-cerita pendek dapat memuat pola ini atau mungkin pula tidak. Sebagai contoh, cerita-cerita pendek modern hanya sesekali mengandung eksposisi. Yang lebih umum adalah awal yang mendadak, dengan cerita yang dimulai di tengah aksi. Seperti dalam cerita-cerita yang lebih panjang, plot dari cerita pendek juga mengandung klimaks, atau titik balik. Namun demikian, akhir dari banyak cerita pendek biasanya mendadak dan terbuka dan dapat mengandung (atau dapat pula tidak) pesan moral atau pelajaran praktis. Seperti banyak bentuk seni manapun, ciri khas dari sebuah cerita pendek berbeda-beda menurut pengarangnya.


Cerpen merupakan akronim dari cerita pendek. Karya sastra merupakan wujud dan bentuk dari perilaku yang diciptakan, contoh karya sastra yang sederhana adalah cerpen. Cerpen merupakan karya sastra yang  menarik dan sederhana. Menceritakan sebuah konflik secara singkat dan lugas, namun memiliki unsur-unsur sastra yang menarik.

PENGERTIAN CERPEN MENURUT PARA AHLI

  • H.B. Jassin –Sang Paus Sastra Indonesia- mengatakan bahwa yang disebut cerita pendek harus memiliki bagian perkenalan, pertikaian, dan penyelesaian.
  • A. Bakar Hamid dalam tulisan “Pengertian Cerpen” berpendapat bahwa yang disebut cerita pendek itu harus dilihat dari kuantitas, yaitu banyaknya perkataan yang dipakai: antara 500-20.000 kata, adanya satu plot, adanya satu watak, dan adanya satu kesan.
  • Aoh. KH, mendefinisikan bahwa cerpen adalah salah satu ragam fiksi atau cerita rekaan yang sering disebut kisahan prosa pendek.
  • Allan Poe dalam Nurgiyantoro dalam Regina Bernadette, Cerita pendek diartikan sebagai bacaan singkat, yang dapat dibaca sekali duduk, dalam waktu setengah sampai dua jam, genrenya mempunyai efek tunggal, karakter, plot dan setting yang terbatas, tidak beragam dan tidak kompleks (Pengarang cerpen tidak melukiskan seluk beluk kehidupan tokohnya secara menyeluruh, melainkan hanya menampilkan bagian – bagian penting kehidupan tokoh yang berfungsi untuk mendukung cerita tersebut yang juga bertujuan untuk menghemat penulisan cerita karena terbatasnya ruang yang ada.
  • Turayev dalam Regina Bernadette mengatakan bahwa, Cerita pendek bentuk karya sastra naratif, yang menampilkan cerminan sebuah episode dalam kehidupan seorang tokoh. Jadi, secara lebih luas dapat dikatakan bahwa penulis cerpen menampilkan jumlah tokoh yang terbatas, tidak ada perkembangan karakter tokoh dan tidak memiliki latar seperti apa yang terdapat dalam novel.
  • Menurut Susanto dalam Tarigan, cerita pendek adalah cerita yang panjangnya sekitar 5000 kata atau kira-kira 17 halaman kuarto spasi rangkap yang terpusat dan lengkap pada dirinya sendiri.
  • Sumardjo dan Saini mengatakan bahwa cerita pendek adalah cerita atau parasi (bukan analisis argumentatif) yang fiktif (tidak benar-benar terjadi tetapi dapat terjadi dimana saja dan kapan saja, serta relatif pendek).
Dari berbagai pendapat para ahli, rumusan-rumusan tersebut tidak sama persis, juga tidak saling bertentangan satu sama lain. Hampir semuanya menyepakati pada satu kesimpulan bahwa cerita pendek atau  cerpen adalah cerita rekaan yang pendek. Cerpen merupakan akronim dari cerita pendek. Karya sastra merupakan wujud dan bentuk dari perilaku yang diciptakan, contoh karya sastra yang sederhana adalah cerpen. Cerpen merupakan karya sastra yang  menarik dan sederhana. Menceritakan sebuah konflik secara singkat dan lugas, namun memiliki unsur-unsur sastra yang menarik.

CIRI-CIRI CERPEN

1.      Memiliki bentuk tulisan yang padat, singkat dan lebih pendek dibandingkan dengan  novel.
2.      Tulisannya kurang dari 10.000 (sepuluh ribu) kata.
3.      Sumber cerita berasal dari kehidupan sehari-hari, baik itu pengalaman pribadi maupun pengalaman orang lain.
4.      Penokohannya begitu sederhana, singkat serta tak mendalam.
5.      Tidak melukiskan seluruh kehidupan pelaku karena mengangkat masalah tunggal saja.
6.      Tokoh dilukiskan mengalami konflik hingga dengan penyelesaian konflik tersebut.
7.      Cerpen habis dibaca sekali duduk dan hanya mengisahkan sesuatu yang berarti bagi si  pelaku.
8.      Penggunaan kata sangat ekonomis dan mudah untuk dikenal oleh masyarakat.
9.      Meninggalkan kesan yang mendalam dan efek terhadap perasaan pembaca.
10.  Menceritakan satu kejadian dari terjadinya perkembangan jiwa dan krisis, namun tak sampai menimbulkan perubahan nasib.
11.  Memiliki alur tunggal dan lurus.


JENIS-JENIS CERPEN

1.     JENIS CERPEN BERDASARKAN JUMLAH KATANYA
     Berdasarkan jumlah katanya, cerpen dipatok sebagai karya sastra berbentuk 
prosa fiksi dengan jumlah kata berkisar antara 750-10.000 kata. Berdasarkan jumlah katanya, cerpen dapat dibedakan menjadi 3 tipe, yakni:
1.     Cerpen mini (flash), cerpen dengan jumlah kata antara 750-1.000 buah.
2.   Cerpen yang ideal, cerpen dengan jumlah kata antara 3.000-4000 buah.
3.   Cerpen panjang, cerpen yang jumlah katanya mencapai angka 10.000 buah.

2.   JENIS CERPEN BERDASARKAN TEKHNIK MENGARANGNYA
1.     Cerpen sempurna (well made short-story), cerpen yang terfokus pada satu tema dengan plot yang sangat jelas, dan ending yang mudah dipahami. Cerpen jenis ini pada umumnya bersifat konvensional dan berdasar pada realitas (fakta). Cerpen jenis ini biasanya enak dibaca dan mudah dipahami isinya. Pembaca awam bisa membacanya dalam tempo kurang dari satu jam 
2.   Cerpen tak utuh (slice of life short-story), cerpen yang tidak terfokus pada satu tema (temanya terpencar-pencar), plot (alurnya) tidak terstruktur, dan kadang-kadang dibuat mengambang oleh cerpenisnya. Cerpen jenis ini pada umumnya bersifat kontemporer, dan ditulis berdasarkan ide-ide atau gagasan-gagasan yang orisinal, sehingga lajim disebut sebagai cerpen ide (cerpen gagasan). Cerpen jenis ini sulit sekali dipahami oleh para pembaca awam sastra, harus dibaca berulang kali baru dapat dipahami sebagaimana mestinya. Para pembaca awam sastra menyebutnya cerpen kental atau cerpen berat.

ALIRAN-ALIRAN CERPEN

Aliran-aliran cerita pendek merupakan filosofi dasar yang mencirikan pengucapan sastra seorang sastrawan. Hingga kini telah dikenal puluhan aliran jenis jenis cerita pendek. Berikut adalah beberapa di antaranya :

1.REALISME
Adalah aliran dalam kesusastraan yang melukiskan suatu keadaan secara sesungguhnya. HB Jasssin menjelaskan dalam realisme digambarkan keadaan seperti yang sebenarnya yang terlihat oleh mata. Pengarang melukiskan dengan teliti tanpa prasangka, tanpa tercampur tafsiran, tidak memaksakan kehendaknya sendiri terhadap pelaku dan pembacanya. Pengarang sendiri berada di luar tanpa ikut campur dalam cerita. Ia sebagai penonton yang obyektif. Tidak melukiskan lebih bagus atau lebih jelek dari kenyataan. Realisme muncul pada abad ke 18 tapi baru berkembang pada abad 19 dan awal abad 20. Kaum realis menentang romantisme yang mereka anggap cengeng dan berlebihan. Kaum realis lebih memilih tokoh-tokoh sederhana dan umum. Hal-hal bersifat ideal ditolak. Itulah sebabnya karya realisme banyak berkisar pada golongan masyarakat bawah, seperti kaum tani, buruh, gelandangan, pelacur, gangster,dsb.

2. Impresionisme
Impresi berarti kesan. Jadi impresionisme adalah pelahiran kembali kesan-kesan sang pengarang terhadap sesuatu yang dilihatnya. Sebagaimana kesan, ia biasanya sepintas lalu. Menurut Dr. JS Badudu, pengarang tak akan melukiskannya sampai sekecil-kecilnya seperti realisme dan naturalisme. Akan tetapi spontanitas dari penglihatan pertama yang dilukiskan, karena kesan itulah yang tetap melekat.

3. Naturalisme
Sebenarnya merupakan cabang realisme. JIka realisme menyajikan hal-hal yang nyata dalam kehidupan sehari-hari, naturalisme cenderung melukiskan segala kenyataan yang ada tanpa memilih, atau menyeleksinya. Apa yang tampak dan dirasakan itu juga yang dinyatakan. Oleh sebab itu naturalisme cenderung melukiskan segala yang buruk, jorok bahkan pornografis. Juga melukiskan kritik sosial secara tajam. Naturalisme amat mementingkan alam semesta, seperti pengertian awalnya bahwa natura adalah alam. Tokoh-tokoh naturalisme mengungkapkan aspek-aspek alam semesta yang bersifat fatalis dan mekanis. Ia juga mementingkan gerak dan aktivitas manusia yang mewujudkan kebendaan serta kehidupan moral yang rendah.
4.Neonaturalisme
Berarti naturalisme baru, yaitu bentuk lanjutan naturalisme. Aliran ini merangkum realisme dan naturalisme. Yaitu disamping melukiskan hal-hal yang buruk juga kenyataan yang baik. Itu sebabnya ia dikatakan melukiskan kenyataan yang obyektif. Fiksi awal sastra Indonesia tampil dalam bentuk realisme yang kuat, melukiskan aspek kehidupan secara nyata dan langsung. Dalam perkembangannya realisme kurang memuaskan sehingga dalam
banyak hal naturalisme lebih mampu menyatakan ekspresi jiwa pengarang. Akan tetapi naturalisme pun kurang memuaskan sehingga membutuhkan satu bentuk ekspresi yang lebih ekstrem yaitu neonaturalisme

5. Determinisme
Merupakan cabang dari naturalisme, yaitu aliran kesusasteraan yang menekankan pada takdir. Takdir ini ditentukan oleh unsur biologis dan lingkungan. Berasal dari kata to determine yang berarti menentukan atau paksaan nasib. Dr. Js. Badudu mengatakan bukan nasib yang ditentukan oleh Tuhan melainkan nasib yang ditentukan oleh keadaan masyarakat sekitar, seperti kemiskinan,penyakit keturunan, dan kesulitan akibat perang. Inti pokoknya adalah penderitaan seseorang. Jahatkah, melaratkah, penyakitankah, bukan karena takdir Tuhan namun karena lingkungan yang buruk. Penganutnya berangkat dari paham materialisme dan karenanya tidak percaya bahwa Tuhanlah yang menakdirkan demikian. Contoh : Tokoh Yah dalam Belenggu, Armijn Pane.
Neraka Dunia, Katak hendak jadi Lembu - Nur St Iskandar. Pada Sebuah kapal - NH Dini, Atheis Achdiat K Mihardja.

6. Ekspresionisme
Dijelaskan oleh Dr. HB Jassin bahwa sampainya orang pada aliran ekspresionisme karena manusia dengan jiwanya yang paling dalam cuma bisa dilukiskan oleh seniman yang mengenali manusia itu sampai pada pikiran dan perasaannya yang paling dalam, kesedihan dan kesengsaraannya,ketinggian rasa susila, dan kerendahan hawa nafsunya. Untuk melahirkan manusia yang sebenarnya , si pengarang harus seolah-olah masuk ke dalam tokoh-tokohnya, dan ia tak bisa meniadakan dirinya sama sekali, tapi turut aktif dalam jiwa tokoh itu. Pada mulanya ia sebagai penonton pasif, yaitu melihatnya secara obyektif tapi kemudian menjadi aktif sebagai pemain yang subyektif yang turut menyatakan dirinya. Maka sampailah ia pada ekspresi yaitu pengucapan jiwanya yang melahirkan ekspresionisme.

7. Romantisme
Mengutamakan perasaan. Ada anggapan romantisme adalah penyakit kaum muda yang belum banyak mengecap pengalaman dunia. Mereka mengukur segalanya dengan intuisi dan perasaan tanpa menggunakan otak. Oleh sebab itu romantisme bisa dikatakan aliran yang mementingkan penggunaan bahasa
yang indah, mengawang ke alam mimpi. karya romantisme ada yang cengeng, yang meluikiskan kecengengan jiwa remaja yang berlagu tentang kecerahan bulan, menyanyi di lindungan pohon dengan beribu bunga di taman indah permai. Ada pula karya romatisme yang dewasa karena ditempa oleh pengalaman
dan pengetahuan yang bila dituangkan dalam karya sastra bisa sangat mengharukan. Karya Shakespeare, Romeo dan Yuliet, misalnya adalah karya yang agung. Demikian pula Les Mirables, karya Victor Hugo. Juga Daniel Defoe (1660-1731)

8. Idealisme
Drs. sabarudin ahmad dalam pengantar sastra Indonesia (Medan, Saiful 1975) mengatakan bahwa aliran idealisme adalah aliran romantik yang mendasarkan cita-citanya pada cita-cita si penulis atau kepada ide pengarang semata. Pengarang idealis mememandang jauh ke depan ke masa datang dengan segala kemungkinan yang sangat diharapkan akan terjadi.
Jadi tak ubahnya ramalan indah dari seorang penulis. Lukisan yang idealisme sudah tentu umumnya indah dan menawan. Contoh Tokoh Tuli dalam layar Terkembang. Merasa mampu mewujudkan cita-citanya mengangkat harkat martabat kaum wanita sebagai mana dicita-citakan RA Kartini . Umumnya fiksi Indonesia seblum perang banyak yang menunjukkan idealisme kuat, seperti Siti Nurbaya, Pertemuan Jodoh, Katak hendak jadi lembu.

9. Surealisme
Muncul di Prancis antara PD I dan PD II. Tokoh surealis berusaha menggambarkan suatu dunia mimpi, tapi penafsirannya mereka serahkan pada pembaca atau audiens. Js Badudu mengatakan surealisme .realistasnya bercampur dengan angan-angan. malah angan-angan amat memengaruhi bentuk lukisan. Pelukisan dalam surealisme melompat-lompat .Karena itu amat sulit mengikuti karya surelaisme. Pembaca harus menyatukan dalam pikirannya lukisan yang seakan-akan bertaburan apalagi karena pengarang seakan mengabaikan tata bahasa, pikiran tampak meloncat-loncat,logika seakan hilang , alam benda dan alam pikiran bercampur jadi satu. 

UNSUR – UNSUR CERPEN

Setiap cerpen memiliki unsur-unsur, sementara itu unsur cerpen di bagi menjadi dua, yaitu:
1.     Unsur Intrinsik
Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun karya itu sendiri. Unsur–unsur intrinsik cerpen mencakup:
  • Tema adalah ide pokok sebuah cerita, yang diyakini dan dijadikan sumber cerita.
  • Latar(setting) adalah tempat, waktu , suasana yang terdapat dalam cerita. Sebuah cerita harus jelas dimana berlangsungnya, kapan terjadi dan suasana serta keadaan ketika cerita berlangsung.
  • Alur (plot) adalah susunan peristiwa atau kejadian yang membentuk sebuah cerita.
Alur dibagi menjadi 3 yaitu:
1.     Alur maju adalah rangkaian peristiwa yang urutannya sesuai dengan urutan waktu kejadian atau cerita yang bergerak ke depan terus.
2.   Alur mundur adalah rangkaian peristiwa yang susunannya tidak sesuai dengan urutan waktu kejadian atau cerita yang bergerak mundur (flashback).
3.   Alur campuran adalah campuran antara alur maju dan alur mundur.
Alur meliputi beberapa tahap:
1.     Pengantar: bagian cerita berupa lukisan , waktu, tempat atau kejadian yang merupakan awal cerita.
2.   Penampilan masalah: bagian yang menceritakan maslah yang dihadapi pelaku cerita.
3.   Puncak ketegangan / klimaks: masalah dalam cerita sudah sangat gawat, konflik telah memuncak.
4.   Ketegangan menurun / antiklimaks: masalah telah berangsur–angsur dapat diatasi dan kekhawatiran mulai hilang.
5.   Penyelesaian / resolusi: masalah telah dapat diatasi atau diselesaikan.
  • Perwatakan, menggambarkan watak atau karakter seseorang tokoh yang dapat dilihat dari tiga segi yaitu melalui:
1.     Dialog tokoh
2.   Penjelasan tokoh
3.   Penggambaran fisik tokoh
  • Nilai (amanat) adalah pesan atau nasihat yang ingin disampaikan pengarang melalui cerita.
  • Sudut Pandang (Point of View) adalah cara pengarang menceritakan tentang tokoh.
    Sudut pandang dibagi menjadi 2 :
    ˃ Sudut Pandang orang pertama ( Aku, Saya, Dia, Kamu, dll )
    ˃Sudut Pandang orang ketiga ( Nama Orang).
  • Gaya Bahasa adalah cara pengarang membahasakan cerita.
2.   Unsur Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra. Unsur ekstrinsik meliputi:
  • Nilai-nilai dalam cerita (agama, budaya, politik, ekonomi)
  • Latar belakang kehidupan pengarang
  • Situasi sosial ketika cerita itu diciptakan

CONTOH CERPEN

Persahabatan

Dewi adalah seorang gadis yang sangat populer baik di lingkungan rumahnya maupun di sekolah. Dia adalah orang sangat pintar, menyenangkan, dan selalu berbuat baik dengan semua orang. Kepopuleran Dewi tersebut tidaklah terjadi secara kebetulan karena sejak dia kecil, Dewi selalu berusaha untuk menjadi orang yang baik dan ramah kepada semua orang yang ditemuinya. Bahkan dia pun mengundang seluruh teman – teman yang ada di sekolah dan lingkungan rumahnya untuk menghadiri pesta ulang tahunnya. Begitu pula saat dia diundang datang ke pesta ulang tahun temannya, dia selalu datang dengan membawa hadiah yang sangat special. 

Dewi terihat seperti seorang gadis yang sibuk dengan teman – temannya yang sangat banyak. Bahkan dia hampir tidak memiliki kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama seorang temanpun karena sangking banyaknya teman yang mengelilinginya. Namun, Dewi tetap merasa sangat beruntung karena tidak ada gadis lain seperti dirinya yang memiliki begitu banyak teman di sekolah dan di lingkungan rumahnya.
Namun, semua itu berubah ketika Hari Persahabatan Nasional tiba. Pada hari itu, seluruh orang di sekolah merayakanya dengan sangat gembira bersama sahabat mereka masing – masing. Pada hari itu, setiap orang di sekolah harus membuat tiga hadiah special untuk diberikan kepada tiga sahabat terbaik mereka. Dewi pun merasa senang dengan begitu dia bisa memberikan hadiah kepada sahabatnya. Namun, ketika dia telah memiliki tiga buah hadiah yang akan dia berikan kepada teman – temannya, Dewi merasa bingung untuk memberikan hadiah tersebut kepada siapa karena teman yang dimiliki sangatlah banyak. 

Pada akhirnya Dewi memilih untuk menambah kado tersebut dan membagikannya kepada seluruh teman sekelasnya. Namun, ketika semua hadiahnya telah diberikan kepada teman-teman sekelasnya, tak ada seorang pun yang memberikan kado sebagai hadiah persahabatan kepada Dewi. Dia pun merasa sedih, dan menangis. 
“Bagaimana ini bisa terjadi?, padahal aku memiliki banyak teman, tetapi tak ada satupun yang memberiku hadiah persahabatan,” tangis Dewi dalam kesendiriannya. 
Begitu banyak usaha yang dilakukan oleh Dewi untuk membuat begitu banyak teman, dan pada akhirnya tidak ada satupun yang menganggap dirinya sebagai sahabat mereka. 

Teman – teman sekelasnya datang dan mencoba untuk menghiburnya, tetapi mereka hanya menghiburnya untuk sementara waktu dan kemudian meninggalkannya dan kembali kepada sahabat mereka masing – masing. Hal ini persis seperti apa yang telah Dewi lakukan kepada mereka sebelumnya, datang hanya untuk sesat dan kemudian pergi dengan temannya yang lain. Di tengah – tengah kesedihannya itu, Dia menyadari sesuatu bahwa selama ini dia berusaha untuk menjadi teman yang baik sehingga memiliki banyak teman dan kenalan di luar sana, tapi tak seorang pun yang mengagapnya sebagai sahabat sejati. Padahal, dia telah berusaha untuk tidak berdebat dengan siapa pun, ia juga mencoba untuk selalu memperhatikan mereka, tetapi sekarang dia menyadari bahwa hal tersebut tidaklah cukup untuk membuat sebuah persahabatan sejati. 
Dewi kemudian pulang dengan perasaan yang sedih. Ketika dia telah sampai di rumah, dia menangis di pelukan ibunya. Dia menceritakan semua masalahnya, dan juga bertanya kepada ibunya di manakah dirinya bisa menemukan seorang sahabat sejati. 

“Mah, aku ingin sekali memiliki sahabat. Beritahu aku dimana menemukan seorang yang benar – benar menganggapku sebagai sahabat,” tanya Dewi dengan berlinang air mata. 
"Dewi, Sayang, kamu tidak bisa membeli sahabat hanya dengan senyum atau kata-kata yang manis saja. Jika kamu benar-benar menginginkan sahabat sejati, maka kamu harus memberikan kasih sayang dan menghabisi watu bersama mereka baik di waktu sedih maupun senang, karena sahabat adalah orang yang selalu berada di sisi kita di saat sedih maupun duka,” jelas ibunya.

"Tapi aku menginginkan semua teman – temanku menjadi sahabat sejatiku! Bagaimana bisa aku membagi waktuku untuk semua orang!” protes Dewi.
"Nak, kau adalah seorang gadis yang cantik dan baik, meskipun kamu memiliki teman yang sangat banyak, kamu tetap tidak bisa menjadi sahabat bagi semua orang karena kamu tidak akan bisa memberikan waktu mu kepada semua orang. Mereka hanya akan menjadi teman dan kenalanmu karena hanya ada didekat mereka saja tidak cukup untuk menjadikanmu seorang sahabat,” jawab ibunya sambil mengelus rambut Dewi.

Mendengar perkataan ibunya, Dewi akhirnya memutuskan untuk mengubah pandangannya tentang teman dan sahabat selama ini.
Malam itu, Dewi berpikir tentang apa yang bisa dia lakukan untuk mendapatkan seorang sahabat di tempat tidurnya. Dia teringat perkataan ibunya bahwa seorang sahabat adalah orang yang selalu berada di sisi dan membantu baik dalam keadaan sedih maupun sulit. Kemudian dia berpikir tentang ibunya. 

Ibunya adalah orang yang selalu membantu dan berada di sisinya baik suka maupun duka. Ibulah yang selalu mendengarkan permasalahan, selalu memaafkan dan juga sangat mencintai dirinya, lalu Dewi tersenyum dan menyadari bahwa selama ini dia sudah memiliki sahabat terbaik yang dia impi – impikan.